Home / Hukrim / Kapolda NTT Didesak Copot Brigpol Polce Adu Bila Terbukti Aniaya Ketua PMKRI

Kapolda NTT Didesak Copot Brigpol Polce Adu Bila Terbukti Aniaya Ketua PMKRI

Kupang, KoranNusa.Com- Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) NTT, Irjen Pol H Hamidin, didesak Forum Pemuda NTT agar mencopot oknum polisi Polce Adu yang berpangkat Brigpol dari anggota kepolisian.

Desakan pencopotan itu sebagai bentuk kekecewaan kerena Brigpol Polce Adu diduga telah melakukan penganiayaan terhadap ketua PMKRI Kupang, Oswin Goleng yang terjadi pada Sabtu malam, (18/1/2020).

“Kapolda NTT, Irjen Pol Hamidin harus segera menindak tegas dengan mencopot Brigpol Polce Adu bila terbukti aniaya ketua PMKRI karena tidak pantas dan layak jadi anggota Polri,” ujar ketua Forum Pemuda NTT, Agustinus Budi Otomo Gilo Roma melalui pesan singkat WhatsApp (WA) kepada media ini, Minggu (19/1/2020).

Apalagi, pemukulan itu, kata Bedi Roma, dilakukan di Kantor Satlantas Polres Kupang Kota.

Padahal, tugas kepolisian adalah untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.

“Tindakan itu merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Perlakuan oknum polisi itu terhadap ketua PMKRI Kupang tidak mencerminkan spirit Polri yang katanya melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat,” ujar Bedi

Bedi menjelaskan, peristiwa pemukulan itu membuktikan sikap arogansi, dan represif dari anggota kopolisian. Sikap Oknum polisi itu juga telah mencoreng Institusi kepolisian.

“Ini sikap bar-bar, gaya premanisme. Ini mencoreng lembaga Polri. Karena itu mesti dicopot saja,” kata Bedi.

Kasus pemukulan ketua PMKRI, Oswin Goleng yang diduga dilakukan oleh oknum polisi, Brigpol Polce Adu diduga terjadi di kantor Satlantas Polres Kupang Kota.

Peristiwa itu bermula ketika kendaraan roda dua bermerek FU yang dikendarai oleh korban “ditilang” anggota Satlantas Polres Kupang Kota di depan Gereja Kathedral karena tidak mengenakan Helm.

Berikut kerologis kejadian berdasarkan pengakuan Korban

Selesai jam misa sore, Korban bersama seorang rekannya berinisial BP menuju ke kampung Solor. Tiba di depan Gereja Katedral Kupang, motor yang ditumpangi korban ditahan oleh Satlantas Polresta Kupang Kota dengan alasan korban dan rekannya tidak memakai Helm. Sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, saat ditahan Oswin dan rekannya itu tidak mengelak atau melakukan perlawanan.

Pada saat yang bersamaan, Oswin Goleng sempat meminta blanko tilang. Namun, kata oknum Polantas bahwa blanko tilang tidak ada. Oswin dan rekanya lalu diarahakan untuk mengambil blanko di Kantor Satlantas Polresta. Motor Satria Fu itu akhirnya dibawa anggota Polantas ke kantor tersebut.

Tiba di Kantor Satlantas, Oswin menanyakan mekanisme atau SOP penilangan yang berlaku, bahwasannya, lokasi tilang tanpa papan informasi bahkan blanko tilang tidak diberikan malah diarahkan ke kantor Satlantas.

Selain itu, Oswin menanyakan lokasi tilang yang sama sekali mengabaikan kepentingan umum. Menurutnya, itu bisa menimbulkan kecelakaan. Lokasi itu tepat di pertigaan jalan menurun dan berhadapan langsung dengan Gereja Katedral yang mana orang kristiani butuh ketenangan menjalankan aktivitas rohani.

“Sebagai orang awam, niat saya mempertanyakan untuk memperoleh alasan dan informasi secara utuh dari pihak Satlantas agar tidak menimbulkan kecurigaan dan penilaian negatif. Namun hal ini diabaikan, malah saya dipukul, diintimidasi dan diusir,” Kata Oswin Goleng yang juga adalah ketua PMKRI Kupang itu.

Mendengar perkataan itu, menurut keterangan Oswin, anggota Polantas Polce Adu menanggapi secara arogan dengan bahasa yang tidak etis. “Kau datang hanya bikin ribut saja goblok,” sebut Oswin meniru ucapan Polce.

Tidak menerima perkataan itu, korban pun membalas ujarannya. “Pak, mohon lebih etis dalam berbahasa, sebetulnya kamu yang goblok,” tutur Oswin Goleng, mengulangi ucapannya.

Perkataan Oswin sepertinya memancing amara Polce Adu. Seketika itu Polce Adu dan beberapa anggota polisi lain (kurang lebih 7-8 orang) bereaksi dengan melakukan kekerasan secara fisik dan verbal: memukul, intimidasi dan mengusir korban keluar dari kantor secara tidak manusiawi.

Lapor Ke Polda NTT

Oswin yang merasa telah dianiaya lalu mendatangi Polda NTT untuk membuat laporan polisi.

Laporan Oswin diterima oleh bagian Propam Polda NTT dengan nomor laporan polisi : STPL/3/I/Huk.12.10/2020/Yanduan.

Hingga berita ini diturunkan pihak KoranNusa belum berhasil mengkonfirmasi lihak Polresta Kupang Kota. //KoranNusa (JP)