Home / Travel / Natoni Adat Dan Ramahnya Masyarakat Desa Mnelanen

Natoni Adat Dan Ramahnya Masyarakat Desa Mnelanen

Travel Story, Korannusa.com- Ratusan kelokan yang ditempuh kurang lebih tiga jam lamanya, mengantarkan kami pada sebuah desa bernama Mnelanen di Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, rabu (5/12).

Kami yang tergabung dalam Tim kampanye caleg DPR RI nomor urut 5 dari partai Nasdem, Alfridus Bria Seran, disambut yakobus Tati, penanggung jawab pertemuan kami dengan masyarakat di desa itu. Yakobus menjemput kami di sebuah pertigaan yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari lokasi pertemuan yang hendak kami tuju.

Baca juga : Penyambutan Aflrid Bria Seran Di Amanuban Timur Dengan Adat Natoni

Kami lalu diarahkan berjalan ke arah titik pertemuan. Di sini masyarakat ternyata telah stay di bawah tenda dengan ukuran kurang lebih 4×15 meter persegi. Masyarakat menjamu kami dengan Natoni adat.

Natoni adat merupakan praktek budaya yang dilakukan dengan cara penuturan kalimat-kalimat dengan bahasa Dawan yang memiliki arti sejarah yang biasanya dipakai dalam acara atau ritual tradisional seperti upacara perkawinan, penerimaan tamu yang dilakukan dengan cara berpidato atau juga bersahut-sahutan. Bahasa dalam Natoni Adat juga tidak seperti bahasa yang digunakan sehari-hari. Bahasa yang digunakan adalah bahasa adat yang yang bersifat sastra yang biasanya dipakai pada ritual-ritual tradisional yang memiliki makna estetika.

Dari pengamatan kami, masyarakat Mnelanen begitu ramah. Mereka menyalami kami satu demi satu, sebelum kami dipersilahkan duduk pada tempat yang telah mereka siapkan khusus.

“Ini adalah adat kami orang sini. Setiap tamu penting yang hadir kami menyapanya dengan Natoni adat,” ujar Yakobus kepada saya.

Ia menjelaskan, kehadiran Alfridus Bria Seran di desanya telah dirindukan oleh masyarakat. Menurutnya, alasan masyarakat menanti Alfrid karena dia adalah “Atoin Meto” (orang Timur asli) yang hendak meminta restu masyarakat di desa itu.

Baca juga : Di Hadapan Alfrid Bria Seran, Masyarakat Amanuban Harapkan Pembangunan Masif

“Masyarakat di sini antusias ketika mendengar pa Frid mau datang. Dia itukan orang Timor asli yang datang minta restu,” kata Yakobus lagi.

Paskal Nahak, salah satu rombongan kami mengatakan masyarakat di kampung itu sungguh memegang teguh adat warisan leluhur. Terutama tentang keramahan masyarakat dengan Natoni-nya yang khas.

“Ciri-ciri adatnya masih sangat kental, kita melihat keanggunan masyarakat di tempat ini dengan adatnya yang khas. Mereka sangat ramah,” ujar pria yang akrab disapa Paskal ini.

Desa Mnelanen memang masih jauh dari sebuah istilah desa yang maju. Pasalnya, masyarakat di desa ini masih ada yang belum menikmat penerangan listrik. Air bersih juga masih menjadi kebutuhan yang sulit didapat masyarakat di tempat ini.*

By : Oni